Tahun ajaran baru 2020/2021 secara resmi dimulai hari ini (Senin 7/13). Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, sebagian besar sekolah kali ini tidak menerapkan sistem pembelajaran tatap muka karena mereka masih dalam status epidemi virus corona (Covid-19).

Sekolah-sekolah tertentu di daerah merah, oranye dan kuning Covid-19 memiliki pembelajaran jarak jauh (online). Zona Hijau hanya dapat melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka, saat itu hanya 112 dari total 514 kota / wilayah di Indonesia (data per 25 Juni 2020).

Kondisi ini berdampak pada persiapan orang tua dan sekolah yang biasanya sibuk mencari berbagai peralatan pendukung untuk anak-anak mereka seperti pakaian, alat tulis, sepatu, dan tas. Namun, persiapan untuk tahun ini sedikit berbeda. Hampir tidak ada pakaian baru, tas baru atau sepatu baru. Apa yang tersisa dan apa yang harus tersedia, yaitu dana untuk sekolah, untuk anak-anak yang belajar di sekolah swasta. Bagi mereka yang bersekolah di sekolah negeri, karena banyak dari mereka telah dibebaskan dari biaya sekolah, orang tua dapat merasa sedikit lega karena tidak perlu menghabiskan biaya lebih banyak.

Karena masih dalam epidemi Covid-19, MPLS telah diperkenalkan di banyak sekolah tanpa tatap muka. Namun, ini tidak berarti bahwa masalahnya telah berakhir. Meskipun penghapusan tatap muka, siswa masih harus mengikuti sistem online MPLS. Oleh karena itu, orang tua harus memastikan bahwa mereka memiliki akses ke internet selain paket data pada perangkat mobile mereka.

Ya, kesan itu sangat sederhana. Terutama bagi mereka yang terbiasa dengan internet sehari-hari dan terbiasa benar-benar berinteraksi dengan orang lain. Nah bagaimana dengan kelompok komunitas yang belum disentuh internet? Inilah yang harus diselesaikan. Untuk sekolah, sudah ada solusi yang sangat baik dengan memungkinkan BOS digunakan untuk membeli paket internet untuk guru selama epidemi. Namun, untuk orang tua, suka atau tidak, mereka harus mengeluarkan kocek ekstra untuk membeli data.

Mengingat kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menerapkan sistem pembelajaran online untuk wilayah Covid-19 merah, oranye dan kuning, ini cukup tepat. Ini karena risiko penularan virus korona di negara itu tetap tinggi. Sampai kemarin, (Minggu 12/7), Satuan Tugas Percepatan Covid-19 telah melaporkan bahwa kasus-kasus positif terus menunjukkan peningkatan 1.681 orang di seluruh Indonesia. Dengan cara ini, total akumulasi pasien virus korona telah mencapai 75.699 orang. Jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit mencapai 35.638 orang dan angka kematian 3.606.

Namun, sekolah adalah fasilitas umum tempat banyak orang berkumpul. Sifat inilah yang harus dipahami bahwa potensi kerumunan harus dihindari. Selain itu, anak-anak termasuk dalam kelompok yang sulit dikendalikan jika mereka bergabung dengan teman-teman lain. Mungkin saja di dalam kelas, misalnya, untuk memberlakukan pembatasan pada siswa dan guru yang masuk, tetapi apakah mereka sedang istirahat atau setelah sekolah, dapatkah mereka tetap berada di kejauhan? Tentu saja, ini akan kembali ke pengawasannya, dalam hal ini pendidik dan orang tua.

Juga, kita tentu tidak ingin unit pendidikan menjadi kelompok baru Coronavirus yang menyebar, seperti yang terjadi di banyak Bizantium di Jawa Timur dan bahkan di sekolah militer di Jawa Barat. Di Jawa Timur, Pondok Pesantren Gontor dilaporkan sebagai kelompok terakhir setelah puluhan siswa positif untuk Covid. Demikian juga di sekolah yang dinominasikan untuk AD Army di Bandung di mana 1.262 siswa positif untuk coronavirus.

Model sistem asrama yang sebenarnya tunduk pada penyebaran Covid-19. Apalagi siswa atau pelajar yang datang dari berbagai daerah yang kemudian berkumpul di satu ruangan dengan lebih dari dua penghuni.

Setidaknya dua kasus ini menggambarkan perlunya pembatasan sosial yang luas (PSBB) dalam pendidikan. Jangan biarkan rasa percaya diri muncul terlalu kuat. Merasa bahwa sekolah itu terletak di Zona Hijau, penyedia telah lupa untuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Ingat, untuk memberikan keselamatan kehidupan anak-anak yang akan menjadi generasi berikutnya!

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya