Ratusan petani dari Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) yang tergabung dalam Gerbang Tani, menggelar aksi di depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (26/8).

Para petani yang telah berjalan kaki dari Medan, Sumatera Utara itu menuntut hak atas tempat tinggal dan lahannya yang telah dirampas oleh BUMN, PTPN II.

Koordinator Aksi yang juga Dewan Pembina SPSB, Aris Wiyono mengaskan bahwa aksi hari ini dilakukan untuk mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan kepastian hukum terhadap konflik agraria di Simalingkar dan Sei Mencirim.

"Targetan kita hari ini meski ada kepastian hukum secara tertulis guna penyelesaian," tegas Aris kepada Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu di Jakarta, Rabu (26/8).

Menurut Aris, negara seharusnya hadir dalam memberikan kepastian hukum dan keadilan bagi petani Simalingkar dan Sei Mencirim, Sumatera Utara.

Pada saat aksi Senin (24/8) kemarin, para petani dijanjikan oleh utusan Istana yang diwakili oleh Deputi IV KSP bahwa tuntutan mereka akan diselesaikan dalam dua hari.

Ratusan petani ini telah berjalan kaki selama 41 hari dari Medan, Sumatera Utara menuju Jakarta. Total mereka telah menempuh jarak 1.800 km dan tiba di Jakarta pada 8 Agustus lalu. Ketika di Jakarta, ratusan petani ini mencari keadilan dengan melakukan audiensi ke Kementerian BUMN hingga Kementerian ATR/BPN.

Upaya penyelesaian konflik agraria sejak puluhan tahun lalu diperjuangkan itu tidak pernah membuahkan hasil, mulai tingkat kabupaten hingga provinsi.

Hari ini mereka kembali berharap kepada kepala negara agar konflik antara petani dua desa dengan PTPN II ini terjadi di atas tanah seluas 1.704 hektare dengan rincian 854 hektare terjadi di Desa Simalingkar dan 850 hektare di Desa Sei Mencirim. (Rmol)

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya