Seorang kakek penjual mainan anak-anak di Solo, Ngadimin Citro Wiyono (87) berkisah tentang masa lalunya menjadi pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan pada masa Agresi Militer Belada II 1948. Dia berkisah tentang tugasnya menjadi mata-mata mengamati pergerakan tentara Belanda.

Ditemui di rumahnya di Kaplingan Rt 04 Rw 20 Jebres Solo Jawa Tengah, kakek yang akrab disapa Mbah Min Semprong ini sedang sibuk mempersiapkan dagangannya. Ada mainan tembak-tembakan, boneka monyet, panahan, hingga ada pula face shield.

Menjelang momen HUT RI 17 Agustus, Mbah Min selalu bersemangat. Bukan karena hendak ikut upacara kemerdekaan, melainkan terkenang saat dirinya menjadi pejuang telik sandi atau mata-mata bagi Tentara Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan di masa Agresi Militer ke 2 Belanda tahun 1948.


"Ceritanya kampung di sekitar Panasan Boyolali, dulu belum ada Lanud Adisumarmo, tapi lapangan terbang Panasan. Pada tahun 1948 Belanda kembali menjajah Indonesia, Belanda yang di Solo berpusat di lapangan terbang. Di sana tank-tank Belanda banyak, pesawat juga banyak dan gudang senjata. Tugas saya menjadi pengawas musuh, atau mata-mata," tutur Mbah Min.


"Setiap hari saya mengawasi pergerakan tentara Belanda dan melaporkannya kepada Komandannya. Karena saat itu umur saya masih 16 tahun, jadi pekerjaan yang pas adalah menjadi mata-mata," kenangnya.

Mbah menceritakan awalnya desa tempat dia tinggal diserbu tentara Belanda, hingga orang tua dan seluruh tetangganya tewas. Saat itulah dia bertekad membalas dendam kematian keluarganya.

Sehingga dia diminta salah seorang komandan tentara untuk membantu. Ngadimin kecil langsung menyanggupinya.

Kini Mbah Min telah renta. Badannya tidak tegap lagi bahkan giginya mulai tanggal satu persatu. Namun yang masih menyala adalah semangat hidupnya dalam menyambung hidup dan mencari nafkah buat keluarganya.


Berbagai pekerjaan sudah pernah dilakoninya setelah menyelesaikan tugasnya menjadi mata-mata pada sekitar tahun 1950.

Hingga kini akhirnya Mbah Min menjadi penjual mainan keliling di beberapa tempat. Namun salah satu lokasi favoritnya untuk berjualan yakni di depan pintu gerbang kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Mbah Min setia menjajakan dagangannya sejak pagi hingga malam. Jika beruntung Mbah Min bisa membawa pulang Rp 20 ribu dalam sehari. Tak jarang dia pulang dengan tangan kosong.

"Sekitar 4 hingga 5 tahun ini jualan mainan. Setelah becak tidak laku, saya banting setir jualan mainan. Ya, dianggap cukup, ya cukup, dianggap nggak ya nggak. Saya bikin face shield, tembak-tembakan, ya untung Rp 1.000 hingga Rp 2.000," tutur Mbah Min.

Salah seorang rekan sesama pedagang di kampus UNS Solo, Purnomo (39) mengaku tahu tentang kisah Mbah Min yang merupakan seorang pejuang kemerdekaan. Mbah Min, kata Purnomo, sudah berjualan di lokasi itu selama enam tahun.

"Sebelumnya sudah tahu mbah sempong pejuang. Dulu juga kerja serabutan akhirnya semakin tua, semakin tua jualan mainan, kalau semangatnya nggak kalah dengan yang muda-muda, dia semangatnya bagus, di event manapun dia ikut, jualannya sampai malam kadang jam 22.00 kadang jam 23.00, nggak pernah mengeluh," tutur Purnomo.

Mbah Min mengaku diminta keluarganya untuk di rumah saja. Apalagi pendapatannya selama pandemi COVID-19 menurun. Namun Mbah Min mengaku tak kerasan jika tak bekerja.

Di antara perjuangannya menyambung hidup dengan berjualan mainan, Mbah Min juga berharap mendapat pengakuan sebagai seorang veteran. Meski tidak ada selembar suratpun diterima Mbah Min dari Komandannya waktu itu.

"Kemauan saya terhadap pemerintah, akuilah saya sebagai pejuang, yang kedua veteran ada honor sedikit atau banyak, tapi bukan itu tujuan saya. Akui saja saya sudah senang, dan perjuangan saya tidak sia-sia. Saya itu kalau cerita masa lalu air mata netes, sampai sekarang belum mendapat penghargaan," kata Mbah Min.(dtk)

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya