Kemana sikap politik Gatot Nurmantyo pasca Pilpres 2019 akhirnya terjawab. Eks Panglima TNI itu memilih masuk gerakan Rocky Gerung cs dalam Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Namun, mencari panggung lewat KAMI, Gatot diingatkan hati-hati bisa ‘gatot’ alias gagal total.

Bergabungnya Gatot dalam KAMI diungkapkan Said Didu dan Syahganda Nainggolan lewat akun Twitternya, masing-masing. Said dan Syahganda sebelumnya ikut dalam dekla rasi KAMI, Minggu (2/8) malam di Jakarta.

“Alhamdulillah, rumusan Maklumat yang akan dibacakan saat deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) telah selesai difinalkan, setelah diskusi cukup panjang dan alot,” tulisnya me lalui akun @msaid_didu, kemarin.

Syahganda juga memposting hal yang sama. “Alhamdulillah telah selesai perumusan butir maklumat yang akan diperjuangkan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia,” tegasnya dalam akun twitter @syahganda.

Dalam unggahan itu, Syahganda turut menyertakan foto para inisiator KAMI yang hadir dalam merumuskan butir maklumat. Antara lain Din Syamsuddin, Gatot Nurmantyo, aktivis Tionghoa Lieus Sungkharisma, Ichsanuddin Noorsy, Addie Massardi, hingga eks Mensos Bachtiar Chamsyah, serta sejumlah tokoh serta aktivis lainnya.

Dari foto yang diposting, terlihat Gatot hadir mengenakan batik berwarna hitam corak kecoklat-coklatan. Diapit Din dan Muchsin Alatas, Gatot tampak sedang membacakan rumusan butir maklumat yang termaktub di sehelai kertas yang dipegangnya.

Seperti diketahui, KAMI yang di gawangi Rocky Gerung dan Din Syamsuddin dideklarasikan Minggu (2/8) malam di Jakarta. Lewat dekla rasi tesebut, KAMI mengkritisi sejumlah kebijakan yang dibuat Presiden Jokowi.Ketua DPP Golkar Dave Laksono tidak mempermasalahkan kehadiran Gatot di KAMI.

Menurutnya, kinerja pemerintah memang perlu diawasi, termasuk oleh Gatot. Namun saat ini yang dibutuhkan pemerintah adalah inovasi-inovasi dalam mendongkrak ekonomi di tengah pandemi. Bukan hanya memaki-maki tanpa memberikan solusi yang konkrit.

“Siapa pun itu, yang bergabung asalkan melakukan hak politiknya dalam koridor hukum. Tujuannya membangun bangsa bukan hanya untuk menjatuhkan pemerintah, itu adalah niatan yang baik,” kata putra politisi senior Golkar, Agung Laksono itu.

Bagaimana pamor Gatot di KAMI? Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion, Dedi Kurnia Syah, mengatakan secara politik pilihan Gatot bersama KAMI tidak menguntungkan. Sebab simpatisan KAMI jelas sangat terbatas dan rentan men dapat penolakan yang besar, terutama dari kelompok pendukung pemerintah.“Jika memang masih ada semangat untuk melambungkan nama dalam aktifitas politik, Gatot akan lebih baik jika berada di jalur netral untuk kondisi saat ini,” kata Dedi.

Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti memandang figur Gatot tidak cukup kuat sebagai daya pikat politik. Menurut Ray, masalah utamanya bukan pada lembaga atau forum, tapi pada figur Gatot sendiri. “Misalnya tergabung ke KAMI tak membuat peluang beliau menyeruak jadi figur utama,” ungkapnya.

Ray menyarankan Gatot agar lebih memperkuat aktivitas personal. “Masuk dalam berbagai komunitas belum tentu strategis. Utamakan menaikkan nama personal setelah itu baru melembaga,” usulnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menilai positif kehadiran Gatot di KAMI. Apalagi Gatot ini simbol antitesis PKI yang ingin mengganggu Pancasila. “Bagaimanapun Gatot itu latar belakangnya tentara yang memiliki sifat nasionalis tinggi, tentu ada penga ruhnya di KAMI,” sebutnya.

Terkait apakah kehadiran Gatot di KAMI bakal “Gatot”, Pangi Syarwi mengatakan, semua orang butuh panggung. Dirinya tidak pernah melihat secara resmi Gatot mendeklarasikan bagian dari KAMI. “Tentu menguntungkan kalau dia bisa mengolah dengan baik. Kalau dia redup, untuk apa dia nyari panggung. Kecuali masih punya ambisi mendirikan partai baru,” jelasnya.[rmco]

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya