Guru besar Universitas Indonesia (UI) Tamrin Tomagola memberikan catatan atas pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo di Gedung Parlemen (14/08).

Salah satu point yang disorot Tamrin adalah penegasan Jokowi yang mengajak membajak momentum krisis. "Saatnya kita bajak momentum krisis untuk melakukan lompatan-lompatan besar," kata Jokowi.

Jokowi menyebut perekonomian semua negara sedang macet. Ibarat komputer, perekonomian semua negara saat ini sedang hang. Untuk itu semua negara harus menjalani proses mati komputer sesaat, harus melakukan restart, dan re-booting.

Tamrin mengingatkan soal makna positif dan negatif “pembajak krisis”.

Hebat amat: bertekad jadi pembajak krisis. Apakah @jokowi sadar berbagai makna dan konsekwensi memdaku diri sebagai "pembajak krisis"? Ada makna "positif" = memanfaatkan momentum, tapi ada juga makna "negatif" = mereguk keuntungan diatas penderitaan orang lain = pemakan bangkai!,” tulis sosiolog ini di akun Twitter @tamrintomagola.


Point lain yang dicatat Tamrin, penegasan Jokowi yang meminta jangan ada yang merasa paling agamis, paling benar sendiri, dan yang lain dipersalahkan.

“Juga, jangan ada yang merasa negeri dan negara ini sebagai warisan keluarga!,” sindir @tamrintomagola.

Sindiran juga dilontarkan Tamrin terkait baju adat Sabu dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dikenakan Jokowi pada Sidang Tahunan MPR, DPR dan DPD 2020 itu.

“Gestur pake pakaian adat Sabu perlu segera disusul dgn penanganan pekerja migran, khususnya perempuan-perempuan NTT yang jenazah-jenazahnya terus berdatangan dari rantau. Juga pembenahan lingkungan NTT yang terus dirusak tambang-tambang secara TSM!,” tulis @tamrintomagola.

source: itoday

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya