Patokan pertumbuhan ekonomi pada triwulan III tahun 2020 sebesar minus 2 persen sampai 0 persen yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani dinilai realistis meski jauh dari harapan Presiden Joko Widodo.

Seperti diketahui, dalam rapat terbatas, Senin kemarin (24/8), Presiden Joko Widodo meminta agar pertumbuhan ekonomi triwulan III tumbuh positif.

"Saya kira pemerintah mulai realisistis apa yang sesungguhnya terjadi. Bahwa pertumbuhan ekonomi kita jauh lebih rendah dari permintaan presiden," ujar Direktur Eksekutif Institute Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (25/8).

Hal itu dinilainya wajar lantaran jika melihat capaian pertumbuhan di triwulan II minusnya mencapai 5,32 persen.

"Biasanya kalau pertumbuhan ekonomi turun cukup dalam begitu ya, minus 5,32 persen, itu ngangkatnya berat untuk ke positif. Enggak mungkin dalam waktu relatif cepat, itu butuh waktu," ungkapnya.

Bahkan meskipun pemerintah menggenjot serapan dana penanganan corona hingga mencapai 30 persen, Tauhid berasumsi kondisi ekonomi domestik sukit menjadi positif.

Dipompa-pompa pun sampai 30 persen (serapan dana penanganan corona) situasi kaya begini, enggak langsung bisa jadi sumbangan terbesar ke growth cepat positif," katanya.

"Banyak hal, katakanlah efektifitas programnya sendiri, besaran pendaanan, serta situasi pandemik yang relatif tinggi itu akan menjadi halangan orang untuk konsumsi yang lebih baik," demikian Tauhid. (Rmol)

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya