Ketergantungan Indonesia dari berbagai produk impor masih cukup tinggi, ditunjukkan dengan neraca perdagangan yang masih minus. Sebagian produk impor itu, didatangkan dari China yang terkenal menawarkan barang dengan harga kompetitif. 

Tak hanya produk populer seperti barang elektronik dan aneka perkakas, data Badan Pusat Statistik atau BPS menunjukkan Indonesia juga mengimpor berbagai jenis hewan hidup dari China, termasuk monyet dan ular.  

Berdasarkan data BPS yang diterima kumparan, Rabu (5/2), China mengirim 1,21 ton hewan primata sejak Januari-Desember 2019. Nilainya mencapai USD 898.372 atau sekitar Rp 12,3 miliar (kurs Rp 13.700 per dolar AS). Impor tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama 2018 sebanyak 1,1 ton atau sekitar USD 205.730. 
  
Tak hanya itu, China juga mengirim hewan reptil hidup ke Indonesia sebesar 18,18 ton atau senilai USD 215.968 sepanjang tahun lalu. Angka ini pun melonjak dibandingkan periode yang sama 2018 sebanyak 11,67 ton atau senilai USD 120.444. 

Sementara impor hewan mamalia lainnya asal China mencapai 550 kilogram (kg) atau senilai USD 7.120. Nilai ini menurun jika dibandingkan periode yang sama 2018 sebanyak 698 kg atau senilai USD 22.037.   

Sayangnya, dalam kelompok tersebut tak bisa dipisahkan secara spesifik per jenis hewan. Adapun hewan yang termasuk primata yang diimpor di antaranya kera dan orang utan.   

Sementara yang masuk jenis mamalia lainnya adalah paus, lumba-lumba. Kuda, keledai, sapi, maupun kambing tidak termasuk dalam pengelompokan hewan mamalia lainnya. Sedangkan hewan reptil yang diimpor di antaranya ular, buaya, hingga kura-kura. Tapi sejak mencuat kasus virus corona di China, Pemerintah melarang sementara impor hewan hidup asal China. Hal ini untuk mencegah penyebaran virus corona ke Indonesia.   

China merupakan mitra dagang terbesar di Indonesia. Selama 2019, impor nonmigas China ke Indonesia mencapai USD 44,58 miliar atau 29,95 persen dari total impor Indonesia.  []

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya