Perjalanan karir politik seorang tokoh sering tidak terduga-duga. Salah satunya adalah karir berpolitik Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang melesat tinggi.

Padahal, kata Kepala Badan Pemenangan Pemilu DPP Partai Demokrat Andi Arief, Megawati mulanya sebatas ibu rumah tangga biasa.

Putri Presiden pertama RI Soekarno itu baru terjun ke dunia politik di tahun 1986 sebagai wakil ketua PDI Cabang Jakarta Pusat. Setahun berselang Megawati menjadi anggota DPR.

“Dulu Ibu Megawati seorang ibu tumah tangga, bukan politisi, tidak dikenal dunia pergerakan. Bahkan PDI disebut Budiman Sudjatmiko sebagai partai borjuis kecil,” ujarnya dalam akun Twitter pribadi, Jumat (13/11).

Karir politik Megawati lantas melejit belasan tahun kemudian. Dia berhasil berhasil membawa partainya kampiun di pemilu Indonesia. Puncaknya, Megawati menjadi perempuan pertama yang menjadi presiden di negeri ini.

Semua diraih setelah Megawati menjadi simbol perlawanan terhadap pemimpin yang diktator.

“Sejarah memanggil Ibu Mega menyudahi kediktatoran,” tutur Andi Arief.

Andi Arief lantas mengaitkan apa yang dialami Megawati tersebut dengan yang kini dirasakan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (HRS).

Penjemputan oleh ribuan umat Islam di Bandara Soekarno-Hatta pada 10 November lalu bisa saja dikapitalisasi Habib Rizieq untuk mengukir sejarah memimpin negeri ini seperti Megawati.

Andi Arief pun bertanya-tanya, akankan Habib Rizieq mendapat kesempatan yang sama seperti Megawati.

“Saya tidak tahu apakah HRS mendapat kesempatan yang sama saat ini,” tutupnya. (*)

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya