Suara riuh anak-anak menyeruak dari dalam rumah di Jalan Purbayan, Gang Janoko, Nomor 1296 A, Rt 58/ Rw 14, Kotagede, Yogyakarta. Mereka sedang duduk santai sambil bercanda seusai mengikuti belajar mengaji. 

Seorang pria mengenakan sarung dan peci tampak duduk dan bercanda akrab dengan anak-anak. Pria tersebut adalah Brigadir Nur Ali Suwandi, atau anak-anak sering memanggilnya Pak Ali. Selain menjadi seorang Polisi, pria yang bertugas di Polda DIY ini juga merupakan bapak angkat bagi 30 anak yatim piatu.

Brigadir Nur Ali Suwandi menceritakan, dulu saat di Jombang, Jawa Timur, masuk pondok Pesantren Bahrul Ulum. Saat di pondok pesantren itu, ia bercita-cita kelak akan menjadi polisi. 

Sebelum mendaftar menjadi anggota polisi, ia menyampaikan niatnya kepada gurunya KH Jamaluddin Ahmad, sekaligus meminta doa restu. "Ada dua pesan yang beliau sampaikan saat itu, pertama kelak kalau sudah menjadi polisi, harus mencintai bangsa ini. 

Kedua pangkatmu jadilah orang yang bermanfaat," ucap Brigadir Nur Ali Suwandi mengulang pesan dari gurunya, saat ditemui Kompas.com, Rabu (29/3/2017) Pesan itupun dilaksanakan oleh Brigadir Nur Ali Suwandi. Pada tahun 2008, pria kelahiran 17 Agustus 1978 ini mulai membantu anak-anak yatim, meskipun saat itu belum ada tempat untuk mereka tinggal. 

"Awalnya kita punya anak yatim itu enggak di sini, masih di rumah-rumah, karena waktu itu belum ada tempat. Saya data ada 10 anak, lalu kita bantu biayanya agar bisa sekolah, uang bulanannya," tuturnya. 

Setelah itu, seiring berjalannya waktu ayah mertuanya memberikan sebuah rumah yang saat ini menjadi lokasi yayasan Bumi Damai yang berada di Jalan Purbayan, Gang Janoko, Nomor 1296 A, Rt 58/ Rw 14, Kotagede, Yogyakarta. 

Rumah tersebut berada di depan tempat tinggalnya. Sejak itulah, rumah pemberian mertuanya itu menjadi tempat tinggal anak-anak angkatnya sekaligus lokasi kegiatan seperti belajar mengaji. Kini, ia mendirikan yayasan Bumi Damai yang berada di Jalan Purbayan, Gang Janoko, Nomor 1296 A, Rt 58/ Rw 14, Kotagede, Yogyakarta. 


"Anak yang mau ikut, saya bawa ke sini, kegiatannya seperti di rumah, belajar, ngaji, hafalan-hafalan. Kalau yang perempuan saat ini masih saya kontrakan di belakang rumah," urainya. Saat ini, lanjutnya, ada sekitar 30 anak yang ada di tempatnya. 

Mereka berasal dari DIY maupun luar kota. Usia tertua yang ada di tempatnya saat ini mahasiswa, sementara termuda berusia 19 bulan. "Yang terkecil usia 19 bulan, tetapi malam pulang, soalnya masih membutuhkan ASI ibunya. Ada teman sekantor dan teman di Wirobrajan yang ikut membantu," ujarnya. 

Sukses jadi polisi Salah satu anak angkatnya, Rahmat, warga Panggang, Gunungkidul, yang sudah ikut sejak SMP bahkan telah menjadi anggota polisi. Saat ini, Rahmat bertugas di Jakarta. "Dia itu tinggal hanya sama ibunya, kita sekolahkan sampai lulus SMA. Lalu mendaftar dan diterima, sekarang dinas di Kelapa Dua Jakarta," kata Ali.

Kepada Rahmat , Ali berpesan ketika diterima dan sudah bertugas menjadi polisi agar jangan pernah lupa dengan ibunya. Pesan itu pun dilaksanakan, dan saat ini Rahmat secara rutin mengirim uang kepada ibunya untuk keperluan sehari-hari dan biaya hidup. "Saya peseni, jangan lupakan ibumu, dia (Rahmat) sudah paham dan setiap bulan mengirim uang. Soal saya, tidak usah dipikirkan, melihat kamu sukses saja sudah sangat senang," ucapnya. 

Diakuinya biaya sekolah, makan dan kebutuhan harian untuk 30 anak memang terhitung besar. Namun ia tidak memikirkan hal itu sebagai beban, tetapi justru dijalani dan dinikmati. Sebab, bapak dua anak ini percaya pasti akan selalu ada jalannya. 

Ia mengaku awalnya tidak semua orang hingga teman kantornya di kepolisian mengetahui apa yang dilakukan Brigadir Ali. Namun setelah beberapa waktu berjalan, teman kantor dan beberapa orang mengetahui dan langsung turut serta memberikan bantuan. "Alhamdulilah selalu saja ada. Kita punya usaha soundsystem, lalu dibantu istri juga jualan batik, ada juga donatur dari teman-teman, ulama juga ada," katanya. Sumber: kompas.com

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya