Kabar penangkapan Menteri KKP, Edhy Prabowo, oleh tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) cukup mengejutkan publik. Edhy Prabowo ditangkap KPK atas dugaan korupsi dalam penetapan izin ekspor benih lobster.

Lebih jauh lagi, penangkapan Edhy Prabowo dinilai bakal berimbas terhadap kesolidan Partai Gerindra dalam koalisi pendukung pemerintah.

Terlebih lagi, Gerindra masih belum cukup lama ikut merasakan kekuasaan setelah menjadi rival Joko Widodo dalam Pilpres 2019.

"Jika benar ditangkap dan alat buktinya cukup, saya pikir ini pukulan telak buat Gerindra sebagai Parpol yang baru merasakan nikmatnya ada di dalam kekuasaan," ujar Direktur Indonesia Future Studies (INFUS), Gde Siriana Yusuf, kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (25/11).

Namun demikian, Gde Siriana berpandangan, kondisi ini tak akan direspons keras oleh Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, yang saat ini masih menjabat Menteri Pertahanan RI di kabinet Jokowi.

"Terkait koalisi, saya pikir Prabowo tidak responsif dengan keluar dari koalisi," imbuh Gde Siriana. "Apalagi tampaknya (dia) menikmati sekali posisinya sebagai Menhan."

Penangkapan
Edhy Prabowo
pun makin menambah panjang daftar politikus yang terjerat korupsi. Sehingga, menurut Gde, penangkapan Edhy Prabowo akan membuat masyarakat semakin tidak mempercayai partai politik.

"Korupsi masih nyata-nyata ada. Ada anggapan, yang tidak tertangkap itu karena tidak ketahuan KPK saja. Atau ada pelindungnya, karena 'bagi-bagi'," tutupnya. (RMOL)

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya