Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berbicara mengenai dinamika politik Pilpres Amerika Serikat 2020 antara Joe Biden dengan Donald Trump. Ia ikut menyoroti sikap Trump yang belum bisa menerima kekalahan dari Biden. 

SBY mengungkapkan, mengalami kekalahan seperti Trump dalam sebuah kontestasi politik memang tidaklah mudah untuk diterima.  

"Kalah itu sedih, down, frustrasi, mungkin juga malu. Mengapa saya mengatakan seperti itu? Saya juga pernah mengalami," ucap SBY dalam diskusi The Yudhoyono Institute yang diunggah di akun Facebooknya, Jumat (27/11). 

Ia lalu menceritakan pengalamannya kalah dalam pemilihan wakil presiden tahun 2001 silam, yang saat itu masih dipilih secara tidak langsung oleh MPR. Kala itu, SBY harus melawan 4 cawapres lainnya, yakni Hamzah Haz, Akbar Tandjung, Siswono Yudo Husodo, dan Agum Gumelar.  

Dalam polling waktu itu, SBY termasuk diunggulkan untuk mendapatkan posisi wakil presiden. Namun, sayangnya, ia kalah unggul dari Hamzah Haz di putaran kedua. 

"Cukup meriah pemilihan yang dilaksanakan MPR waktu itu. Putaran pertama saya lolos, putaran kedua saya kalah. Malam hari saya masih ingat itu saya sedih, down, apalagi timses saya benar-benar sedih dan seperti tidak bisa menerima. Karena polling di luar saya tinggi sekali, tapi kalah dalam pemilihan wakil presiden dan mereka malah (anggap) jangan-jangan enggak fair," ungkap SBY. 

SBY pun berusaha mengontrol emosi dan sedihnya, serta berupaya berpikir secara rasional agar bisa menerima kekalahannya. Ia juga berusaha memberikan pengertian kepada timsesnya agar bisa menerima hasilnya dengan lapang dada.  

"Saya sampaikan penjelasan kepada pers. Yang pertama, saya menerima kekalahan waktu itu. Kedua, saya katakan proses pemilihan fair. Yang ketiga, saya ucapkan selamat ke wapres terpilih dan saya minta maaf ke konstituen, saya belum bisa memenuhi harapan mereka. Itu saya lakukan langsung. Setelah itu saya justru tenang, saya bisa berdamai dengan diri sendiri dan move on," tuturnya.  

Kekalahan SBY Kedua Kalinya

Eks Ketua Umum Partai Demokrat itu menghadapi kekalahan keduanya saat Pileg 2014. Demokrat yang merajai pemilihan legislatif di pemilihan sebelumnya, harus rela menyerahkan peringkat teratasnya kepada partai lain.  

"Quick count dilaksanakan, Demokrat kalah. Tadinya nomor 1 tahun 2009, waktu itu nomor 4. Segera saya melakukan press conference di Pendopo Cikeas, sama Demokrat menerima kekalahan. Saya pribadi mengucapkan selamat kepada partai-partai yang sukses, PDIP, Golkar dan Gerindra," cerita SBY.  

Dengan mengakui kekalahannya saat Pileg 2014, SBY mengaku harinya merasa lebih tenang seperti pengalaman serupa sebelumnya. Ia juga harus meyakinkan para kadernya bahwa kekalahan harus diterima secara legawa, kemudian move on di masa yang akan datang. 

Terkait momen Trump yang belum mengakui kemenangan Biden di Pilpres AS 2020, SBY mengakui pengakuan ini tak akan mudah diungkapkan Trump. Namun, ia meyakini, saat pelantikan Presiden AS 20 Januari 2021, disitulah Trump akan menerima kekalahannya.  

"Presiden Trump meskipun sangat kecewa, frustrasi, dan hal-hal yang dilakukan sekarang ini Trump juga ingin sebuah legacy yang bagus. Ingin diingat seperti apa oleh rakyat Amerika Serikat, atau oleh dunia. Pasti akan berpikir ke situ pada saatnya nanti," tutup SBY. []

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya