GELORA.CO - Aksi Mensos Tri Rismaharini blusukan ke kolong jembatan sungai belakang Kemensos dinilai biasa oleh politisi Demokrat. Risma diingatkan tak ikuti jejak Juliari Batubara.

Sebagian pengamat mengatakan, elektabilitas Anies Baswedan terancam karena Risma dianggap membuka kotak pandora ibukota.

Potret masih adanya kawasan kumuh dan adanya gelandangan akan menurunkan elektabilias Gubernur DKI Jakarta itu menuju Pilpres 2024.

Namun pandangan berbeda justru muncul dari Deputi Balitbang DPP Partai Demokrat, Syahrial Nasution.

Melalui cuitan di laman Twitter pribadinya, Syahrial mengatakan tidak masalah kalau Risma mengancam Anies Baswedan.

Menurut Sekjen The Founding Father House ini, yang patut diwaspadai oleh Risma adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ia pun mendoakan Walikota Surabaya dua periode ini tidak mengikuti jejak koleganya di PDIP, Juliari Batubara yang terjerat kasus korupsi dan ditangkap KPK.

“Nggak apa-apa cuma ancaman terhadap Anies. Harus waspada. Ancaman KPK RI jauh lebih seram. Semoga nggak ikuti jejak Wabendum PDIP Juliari Batubara. Kaya raya masih doyan duit orang miskin,” demikian cuitan Syahrial, Rabu (30/12).

Seperti diketahui, Risma melakukan aksi blusukan di hari pertamanya berkantor di Kemensos RI. Risma mengajak dialog para orang yang tinggal di bawah kolong jembatan agar mau dipindahkan ketempat yang lebih layak.

Selain itu, Risma mengatakan pada para gelandangan itu akan diberi fasilitasi program penguatan skills.

Seperti diketahui, Tri Rismaharini atau Risma blusukan ke permukiman kumuh di Jakarta.

Dia melihat dari dekat tuna wisma yang tinggal di kolong jembatan dekat kantornya di kawasan Kelurahan Pengangsaan, Jakarta Pusat, Senin (28/12).

Risma meninjau lokasi tersebut sekitar pukul 07.00 WIB. Di lokasi itu Risma menyaksikan langsung banyak warga yang tinggal di bawah jembatan.

Risma mencoba berkomunikasi agar mereka pindah dari jembatan tersebut dan tidak tinggal di pinggir kali.[psid]

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya