GELORA.CO  - Aksi saling balas komentar dipertontonkan mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono dan Natalius Pigai.

Awalnya, Pigai mempertanyakan kapasitas Hendropriyono menggunakan diksi ortu (orang tua) yang bicara soal pembubaran Front Pembela Islam (FPI).



"Ortu mau tanya. Kapasitas Bapak di Negeri ini sebagai apa ya, Penasihat Presiden, Pengamat? Aktivis? Biarkan diurus generasi Abad ke 21 yang egaliter, humanis, Demokrat. Kami tidak butuh hadirnya dedengkot tua,” tulis Pigai di akun Twitternya, Jumat (1/1).

Hal itu disampaikan Pigai menyinggung pernyataan Hendropriyono yang mendukung langkah pemerintah membubarkan ormas FPI. Bahkan Gurubesar Sekolah Tinggi Intelijen Negara itu menyebut organisasi pelindung FPI tinggal menunggu giliran untuk ditindak.

Merasa disindir, Hendropriyono pun membalasnya di akun Twitter pribadinya. Ia menjelaskan, seorang pejuang tak akan berhenti untuk membela negara tanpa menghitung untung rugi jika merasa negaranya dalam bahaya.

"Sebagai pejabat, saya dulu berjuang dengan kewenangan saya. Sekarang sebagai rakyat dengan mulut saya dan jika kelak tak berdaya secara fisik, maka saya akan berjuang dengan do'a saya. Begitu bentuk tingkatan iman saya, sebagai seorang muslim," tulis Hendropriyono.

"Apa yang saya sampaikan hanya menasihati supaya kamu tidak larut, tersesat dan menyesal, karena saya yakin kalau sekarang tidak mau mendengarnya, kelak kamu juga akan sadar," lanjutnya.

Hendropriyono pun mengaku sempat mengenal Pigai saat menjabat sebagai Komisioner Komnas HAM periode 2012-2017. Ia juga membantah tudingan pernah menawari jabatan kepada Pigai.

"Saya mengenalmu karena menganggap kamu seorang pemuda harapan bangsa yang patriotik, berani, dan pandai. Karena itu saya tanya kenapa kamu tidak jadi pejabat saja, agar semua bakat dan potensimu tersalur dan bermanfaat," tulis Hendropriyono.

Namun demikian, Pigai yang dulu dikenalnya sebagai seorang patriotik kini diakui telah berubah.

"Setelah lama tidak bertemu dan kamu bukan penguasa lagi, kamu berubah 180 derajat. Selain patriotisme dan kepandaianmu, moralmu juga sangat merosot," tegasnya.

"Semua kata yang keluar dari mulutmu adalah ungkapan dari pikiranmu. Itulah sebabnya saya bisa bilang kamu bukan Pigai yang dulu lagi," tandasnya. (RMOL)

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya