Kisah Pilu 67 Anak Yang Jadi Korban Perang Gaza: Mereka Terkubur Bersama Impian Menjadi Dokter, Artis, Dan Pemimpin



New York Times edisi Jumat (28/5) menampilkan 67 wajah anak-anak korban Perang Gaza di halaman depan sampulnya. 

Memunculkan lagi kesedihan sekaligus kemarahan yang belum selesai,  meskipun gencatan senjata Israel-Hamas telah ditempuh.

Hanya beberapa menit setelah perang antara Israel dan Hamas pecah, seorang anak laki-laki berusia 5 tahun bernama Baraa al-Gharabli tewas di Jabaliya, Gaza, tulis NYT.

Seorang remaja berusia 16 tahun, Mustafa Obaid, tewas dalam serangan yang sama, pada malam 10 Mei.

Sekitar waktu yang sama, empat saudara sepupu, Yazan al-Masri (2 tahun) Marwan al-Masri (6 tahun) Rahaf al-Masri (10 tahun) dan Ibrahim al-Masri (11 tahun), tewas di Beit Hanoun, Gaza.

Keluarga hanya bisa menangis dengan dada yang sesak, sakit yang tidak akan pernah terobati seumur hidup. Kehilangan yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh apa pun.

"Mereka Hanya Anak-anak," tulis NYT.

Banyak orangtua yang kemudian hanya bisa mengatakan, 'Itu kehendak Tuhan', yang menunjukkan kepasrahan.

Mereka tentu tidak akan melupakan bagaimana anak-anak mereka dengan ceria mengungkapkan cita-cita ingin menjadi dokter, artis, dan pemimpin.

“Saya tidak percaya,” kata Saad Asaliyah, seorang sopir taksi dari Jabaliya, yang kehilangan putrinya yang berusia 10 tahun.

"Saya mencoba menenangkan diri dengan mengatakan bahwa Tuhan menghendaki dia untuk pergi."

Perang 11 hari telah membunuh 67 anak di Gaza dan 2 di Israel, menurut laporan awal.

Hussein Hamad (11 tahun), Ibrahim Hassanain (16 tahun), Muhammad Suleiman (15 tahun), Hamza Ali (12 tahun), Mina Sharir (2 tahun), dan Lina Sharir (15 tahun), adalah beberapa di antarayang terbunuh yang semuanya adalah orang Palestina.

Gaza adaah wilayah padat dengan populasinya yang kebanyakan anak-anak dan orang muda di mana sekitar setengahnya berusia di bawah 18 tahun.

Jadi, ketika pesawat tempur menghantam rumah dan lingkungan pemukiman, jumlah anak yang berisiko sangat luar biasa.  Bahkan ada keluarga yang kehilangan seluruh anak-anaknya.

Israel menyalahkan Hamas atas tingginya jumlah korban tewas sipil di Gaza karena kelompok itu menembakkan roketnya terlebih dulu dan melakukan operasi militer dari wilayah sipil.

Kritikus Israel menyebut jumlah korban tewas sebagai bukti bahwa serangan Israel tidak pandang bulu dan tidak proporsional.

Anak-anak di Gaza adalah kelompok yang paling rentan. Mereka tumbuh di tengah kemiskinan dan angka   pengangguran yang tinggi. Anak-anak muda di Gaza tidak bisa dengan bebas bepergian ke dalam atau ke luar wilayah karena blokade yang diberlakukan oleh Israel dan Mesir.

Mereka juga hidup di bawah ancaman perang yang terus-menerus. Rata-rata anak berusia 15 tahun akan hidup melalui empat serangan besar Israel. Hampir semua orang di Gaza mengenal seseorang yang terbunuh dalam pertempuran itu.

“Ketika saya berpikir tentang anak-anak yang meninggal, saya juga memikirkan tentang mereka yang selamat. Mereka yang ditarik keluar dari reruntuhan dan kehilangan anggota tubuh, atau mereka yang akan pergi ke sekolah dan melihat teman mereka telah tiada,” kata Ola Abu Hasaballah, psikolog anak di Gaza.

Di desa Arab Dahmash di Israel tengah, ketika sirene meraung sekitar jam 3 pagi pada 12 Mei, Nadine Awad, 16 tahun, dan ayahnya berlari keluar untuk berlindung, cerita pamannya, Ismail Arafat. Tapi sebuah roket yang ditembakkan oleh militan di Gaza menghantam tanah di samping rumah mereka, menewaskan mereka berdua.

Pembimbing akademis, Sirin Slameh, mengatakan Nadine adalah siswa terbaik. Dia bisa berbicara bahasa Inggris dengan lancar, belajar sendiri cara bermain piano dan berpartisipasi dalam program koeksistensi Yahudi-Arab, kata Slameh.

Korban lainnya; Zaid Talbani (4 tahun), Miriam Talbani (2 tahun), Hala Rifi (13 tahun), Bashar Samour (17 tahun) dan Mina Sharir (2 tahun).

Dua dari anak-anak yang terbunuh di Gaza; Baraa al-Gharabli dan Mustafa Obaid, mungkin telah terbunuh ketika militan Palestina menembakkan roket ke Israel yang gagal, menurut penyelidikan awal oleh Defense for Children International-Palestine.

“Roket tidak membedakan antara orang Arab dan Yahudi,” kata Ismail Arafat.

Ido Avigal (5 tahun), terlihat gelisah ketika suara roket terdengar dan perang dimulai. Ia ketakutan sehingga dia tidak mau tidur, mandi, atau makan sendirian, kata Shani Avigal, ibunya.

Ketika sirene mulai menggelegar di Sderot, Israel, dia berkumpul dengan keluarganya di ruang aman yang dibentengi di rumah bibinya. Namun, malang, ketika sebuah roket menghantam gedung di dekatnya, pecahan peluru menembus kaca tebal ruang aman itu dan pecahannya merobek perut Ido Avigal, kisah Shani dengan berlinang air mata.  

Putranya sangat perhatian dan penyayang, dan baru-baru ini Ido berkata kepada teman-temannya bahwa 'tidak semua orang Arab itu jahat'. Ibunya menyetujui kata-kata Ido.

Pada hari yang sama, 12 Mei, Hamada al-Emour (13 tahun) pergi bersama sepupunya, Ammar al-Emour (10 tahun), untuk mencukur rambut menyambut Idulfitri.

Mereka dalam perjalanan ke rumah di Khan Younis ketika serangan udara Israel menewaskan mereka berdua, kata Atiya al-Emour, ayah Hamada, yang mengatakan dia menyaksikan kematian putranya itu dengan hati yang tercabik.

"Saya berharap saya tidak melihat apa yang terjadi padanya," kata al-Emour.

Mahmoud Tolbeh (12 tahun) adalah murid yang luar biasa, kata ayahnya, Hamed Tolbeh. Dia menyukai sains dan bermimpi menjadi insinyur mesin. Dia membantu di sekitar rumah, membuat telur dan sandwich untuk saudara-saudaranya, teh dan kopi untuk tamu, membersihkan rumah dan mengambil bahan makanan.

Pada malam terakhir Ramadhan, dia pergi membantu sepupu di toko tukang cukurnya. Mahmoud hampir tiba di pintu masuk toko ketika pecahan peluru dari serangan udara Israel mengenai kepala dan lehernya. Dia meninggal dua hari kemudian setelah dirawat.

“Dia memiliki masa depan yang cerah,” kata Tolbeh. "Tapi itu dikuburkan bersamanya di kuburan."

Yahya Khalifa (13 tahun), telah menghafal beberapa ayat Alquran dan berharap suatu hari dapat mengunjungi Masjid Aqsa di Yerusalem. Namun roket telah membunuhnya.

Empat bersaudara, Amir Tanani (6 tahun), Ahmad Tanani (2 tahun), Ismail Tanani (7 tahun) dan Adham Tanani (4 tahun) juga menjadi korban.

Militer Israel mengatakan bahwa mereka memperingatkan semuanya agar menjauhi warga sipil. Namun, banyak orang di Gaza mengatakan bahwa jumlah warga sipil yang terbunuh membuktikan bahwa tindakan pencegahan apa pun yang diambil Israel tidak cukup.

"Orang-orang berpikir pasti ada alasannya," kata Raji Sourani, direktur Pusat Hak Asasi Manusia Palestina di Gaza, "tetapi intinya adalah mereka ingin menimbulkan rasa sakit dan penderitaan."

Banyak orang berlindung di sekolah-sekolah yang telah ditunjuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, tetapi mereka juga telah dibom, memperkuat perasaan bahwa siapa pun bisa dibunuh di mana saja. Bahkan di Israel, warga Arab tidak selalu memiliki akses yang sama ke tempat perlindungan bom.

Bocah usia 9 bulan, Muhammad-Zain al-Attar, duduk di antara saudara perempuannya, Amira al-Attar (6 tahun)  dan saudara laki-laki, Islam al-Attar (8 tahun). Serangan pertama menghantam pintu masuk apartemen mereka di lantai dasar, membuat mereka terjebak. Hanya ayahnya yang selamat yang kelar dari reruntuhan dengan susah payah.

"Gaza sudah menjadi pengalaman yang sangat penuh kekerasan dan teror bagi anak-anak karena mereka berada di bawah kekuasaan militer yang konstan," kata Karl Schembri, juru bicara Dewan Pengungsi Norwegia, yang menjalankan program psikoterapi dan pendidikan untuk anak-anak di Gaza.

Gambar 67 anak yang menjadi korban perang di Gaza memenuhi halaman media sosial. Banyak yang bersedih dan terlarut dengan kisah ini.