Baru-baru ini, BMKG mengumumkan hasil pemodelan matematis yang telah dilakukan. 

Hasilnya menyebut adanya gempa hingga magnitudo 8,7 dan tsunami Jawa Timur setinggi maksimal 29 meter.

Pakar Geologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Ir Amien Widodo mengatakan pemodelan yang dilakukan BMKG merupakan langkah awal yang tepat.

Amien menyebut daerah Jatim terbentuk karena adanya tumbukan lempeng Eurasia dan Indo-Australia, sehingga menjadi suatu keharusan untuk meneliti bab kegempaan di Jatim. Untuk itu, BMKG bukan tanpa alasan menyebut skenario terburuk yang mungkin terjadi.

"Pemodelan ini menunjukkan worst scenario kemudian diumumkan, karena dalam 5 bulan terakhir diketahui frekuensi gempa yang terjadi di Jawa Timur sangat tinggi," ungkap Dosen Departemen Teknik Geofisika ini di Surabaya, Jumat (4/6/2021).

Tak hanya itu, Amien mengatakan tingginya intensitas gempa ini patut dicurigai. Dia mencontohkan Jatim harus belajar dari gempa besar Yogyakarta pada 27 Mei 2006 silam. Salah satu yang menjadi pertanda sebelum gempa Yogyakarta itu terjadi, adalah terekam aktivitas kegempaan yang semakin sering.

Amien mengatakan saat itu, frekuensi gempa mengalami kenaikan, tetapi tidak lebih dari 50 gempa setiap bulannya.

"Sementara itu, di 5 bulan terakhir ini gempa yang terekam selalu lebih dari 500 kejadian per bulan," jelas Amien.

Tak hanya itu, Amien menyebut perbedaan frekuensi tahun 2006 lalu dengan tahun sekarang ini sangat jauh. Untuk itu, sudah sepantasnya kita jauh lebih waspada. Terlebih lagi, tumbukan lempeng yang menyusun Jawa Timur ini panjangnya sekitar 250 sampai 300 KM.

Amien mengatakan hal ini menunjukkan gempa sangat mungkin terjadi di berbagai titik. Salah satunya di wilayah yang ada di sekitar zona subduksi, yakni zona tempat terjadinya tumbukan.

Pengamatan aktivitas gempa juga dilandaskan pada data seismik yang terukur, selain mengacu pada sejarah kegempaan. Meski menurut penelitian aktivitas seismik yang terekam selama ini tidak merata, tetapi menurut Amien, justru hal itu yang perlu dijadikan perhatian.

"Jika sewajarnya intensitas gempa di setiap titik zona subduksi adalah sama, tetapi ditemukan zona dengan gap seismic, artinya ada kemungkinan lempengan terkunci dan akan lepas sewaktu-waktu," paparnya.

Di Indonesia, zona dengan gap seismic ditandai di sembilan wilayah dari Sabang sampai Merauke. Salah satunya ada di Jatim dekat dengan Pulau Bali. Jika daerah yang diperkirakan sedang mengalami kuncian antarlempengnya pada akhirnya lepas dan menyebabkan gempa yang besar, dihitung akan ada waktu 20 sampai 25 menit untuk air mencapai daratan.

"Belum lagi, jika gempa yang terjadi berkekuatan M 8,7, akan mendorong sesar-sesar di Jawa Timur sehingga tereaktivasi," imbuhnya.

Amien menambahkan sesar yang tereaktivasi akan dapat menyebabkan gempa-gempa lain akibat dislokasi. Sedangkan, sesar-sesar tersebut melewati wilayah padat penduduk. Seperti Banyuwangi, Probolinggo, Pasuruan, dan Surabaya.

Meski berkekuatan kecil, jika terjadi di daerah perkotaan maka akan sama membahayakannya. Amien menegaskan, gempa sejatinya tidak membunuh, tetapi dapat memicu likuifaksi, amplifikasi, longsor, dan tsunami, serta kerusakan pada infrastruktur.

Menurut sejarahnya, likuifaksi terparah di Jatim pernah terjadi di daerah Lumajang. Maka dari itu, Amien menekankan supaya masyarakat kenal dengan macam bencana dan mitigasinya.

0Komentar

Sebelumnya Selanjutnya