Prof Nyoman, Sang Arsitek RKUHP Itu Tutup Usia



Oleh:Bakhrul Amal
 HATI ini sedih dan tak karuan mendengar kabar bahwa seorang Guru Besar, Ahli Hukum Pidana dari Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Nyoman Serikat Putra Jaya, S.H.,M.H. berpulang kepada Sang Pemilik Alam.

Untuk diketahui bahwa saya memang bukan orang yang intens bertemu dengan beliau. Saya juga bukan mahasiswa yang mengambil jurusan hukum pidana sebagaimana keahlian beliau.

Saya hanya mahasiswa biasa yang bertemu beliau di mata kuliah pidana yang umum dari strata satu hingga saat ini menempuh jenjang pendidikan doktoral.

Meskipun pertemuan saya dengan beliau jarang tetapi kesan yang saya miliki terhadap beliau begitu dalam.

Saya rasa semua, utamanya mahasiswa beliau di Undip, sepakat bahwa tidak sulit untuk mencintai beliau sebagai dosen maupun sebagai seorang individu.

Sebagai dosen beliau adalah sosok yang bersahaja, mengayomi, penuh dedikasi, dan memiliki keilmuan yang dalam. Beliau adalah sosok yang pertama kali membuat saya tercengan di kampus.

Beliau, di hadapan saya yang masih bau kencur ini, mampu menerangkan isi KUHP, KUHAP, RKUHP, hingga teori-teori pidana di dalamnya tanpa teks. Cara menerangkannya pun lancar dan detail.

Beliau, sebagai individu, juga adalah individu yang begitu sederhana. Kesederhanaan itu saya saksikan dari tas yang beliau bawa kemana-kemana tidak pernah besar (mungkin sekarang disebut totebag) dan selalu beliau jinjing ke punggung belakang dengan tangannya.

Cara berjalannya pun, yang santai, cepat, dan seperti menikmati setiap hentakkan kaki, menunjukkan bahwa beliau sosok yang berkarakter dan  cerdas namun bijaksana.

"Saya ini dulunya pernah memiliki keinginan untuk menjadi Jaksa," tutur beliau dengan bahasa Jawa logat Bali.

Keinginan itu beliau pupus sebab menuruti kemauan gurunya, Prof Muladi, yang lebih 'sreg' melihat Prof Nyoman menjadi pengajar.

Prof Muladi memiliki keinginan itu bukan tanpa alasan. Prof Muladi beralasan bahwa Prof Nyoman adalah mahasiswa yang cerdas dan punya keunikan yang membawanya mampu menjadi salah satu mahasiswa terbaik di kelas. Lepasnya pilihan pribadi itu menunjukkan bahwa beliau begitu hormat dan bakti kepada guru.

"Dan saya tidak pernah menyesal" tutupnya.

Apapun yang terjadi hidup terus berjalan. Beliau istiqomah dan fokus pada agenda-agenda keilmuan. Rasa cintanya pada ilmu itu yang ditunjukkan dengan tidak lelah bolak-balik Semarang Jakarta (waktu itu beliau melaksanakan pendidikan program KPK UI-Undip) untuk sekolah sambil mengajar.

Keilmuan yang dimiliki oleh beliau lantas membawa beliau pada satu mimpi untuk bisa turut serta membidani perubahan KUHP produk kolonial dengan KUHP bercita rasa Indonesia.

Mimpi itu beliau tunaikan bersama Prof Muladi, Prof Barda Nawawi, dan banyak lainnya untuk menyusun RKUHP meneruskan harapan Prof Sudarto.

Akhir tahun 2019 kemarin mimpi itu nyaris terwujud. Hanya saja sebab satu dan lain hal akhirnya pengesahan RKUHP ditangguhkan.

"Apa sih yang salah? Saya yakin semuanya belum membaca betul draft RKUHP oleh karena itu banyak salah paham," ucapnya sambil tersenyum getir menahan kecewa.

Beliau lantas mengambil spidol dan membedah semua isi penting RKUHP itu di kelas. Penjelasan yang gamblang itu beliau uraikan tanpa bantuan buku atau catatan, semuanya di luar kepala.

Sebagaimana dikatakan bahwa ilmu itu pada akhirnya melahirkan sikap. Ilmu Prof Nyoman yang begitu banyak memengaruhi sikapnya yang tetap legowo dan santai menerima kenyataan RKUHP yang mana dia ikut bentuk itu ditolak masyarakat.

Prof, kini engkau telah meninggalkanku, meninggalkan kita semua mahasiswa dan orang yang mengagumimu. Maafkan jika selama ini ada kesalahan dan keliru.

Ilmu yang telah kau berikan begitu bermanfaat untuk profesi dan kehidupanku. Saya bersaksi engkau orang yang baik. Terima kasih, Prof.

(Penulis adalah Kandidat Doktor Ilmu Hukum Undip dan Dosen Hukum Unusia)