Analisis Pakar soal Sosok Penggagas Demo 'Jokowi End Game'



Poster ajakan untuk menggelar demo dengan tajuk 'Jokowi End Game' beredar luas di dunia maya. Siapa penggagas demo 'Jokowi End Game'?

Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menduga penggagas seruan demonstrasi adalah kelompok non-parlemen. Mereka, sebut Adi, selalu bersuara di media sosial.

"Mereka yang sejak awal anti pemerintah. Terutama kelompok ekstra parlemen yang kanal penyaluran politik hanya bisa melalui jalanan," jelas Adi kepada detikcom, Jumat (23/7/2021).

"Kelompok non parlemen ini selalu berdenyut melakukan protes. Terutama di medsos yang tak terbatas. Semua ekspresi politik mereka tumpahkan melalui media sosial. Meski jumlahnya kecil, tapi karena tiap hari melakukan propaganda terkesan gerakan perlawanan semacam ini besar," ungkapnya.

Adi tidak menjelaskan detil siapa kelompok yang dimaksud. Adi menjelaskan tujuan dari kelompok ini adalah mendelegitimasi pemerintah karena dianggap tidak mampu mengendalikan situasi pandemi Corona.

"Bagi mereka yang anti pemerintah, ini saat yang tepat melancarkan serangan di saat pemerintah sedang pusing dan kesulitan hadapi pandemi dan persoalan yang menyertainya seperti dampak ekonomi," tutur Adi.

Sementara itu, Pakar ilmu politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio, berpendapat karena keadaan ekonomi yang berat selama penerapan PPKM, membuat masyarakat ingin menyuarakan kondisi mereka. Salah satunya lewat seruan yang viral di media sosial ini.

"Hal ini membuat banyak kelompok masyarakat ingin bersuara mengungkapkan kekesalan dan keresahan sekaligus memberikan masukan kritis sebagai respons atas kebijakan pemerintah," ujar Hendri.

Dosen komunikasi, Ade Armando, mencium gelagat adanya makar dari seruan demonstrasi itu. Namun, Hendri berkata sebaliknya.

"Menurut saya tuduhan makar terlalu jauh ya, sebab sangat mungkin mereka hanya ingin bersuara," terang Hendri.

Menurut Hendri, bila ada masyarakat yang ingin bersuara dan mengkritik pemerintah, jangan langsung dituduh ada yang menunggangi. Meski kemungkinan itu ada, lanjut Hendri, namun pemerintah sebaiknya selalu menerima masukan kritis masyarakat.


Namun, bila benar seruan aksi itu ada yang menunggangi organisasi terlarang, maka Hendri meminta pihak kepolisian segera mengusutnya.

"Saya juga mendorong pemerintah untuk bertindak tegas bila terbukti penyampaian aspirasi dari warga ditunggangi oleh organisasi atau kelompok yang keberadaannya dilarang hukum dan perundang-undangan di Indonesia," imbuh Hendri.

"Bila melanggar dan ditunggangi, pemerintah harus tindak tegas," jelasnya.

Polisi Ingatnya Kondisi Gawat di RS
Poster seruan aksi bertajuk 'Jokowi End Game' sebelumnya beredar di media sosial. Aksi massa tersebut rencananya dilakukan pada 24 Juli dengan melakukan long march dari Glodok ke Istana Negara.

Sementara itu, Polda Metro Jaya memaparkan kondisi COVID-19 di Indonesia dan khususnya di Jakarta. Masyarakat diminta memahami situasi COVID-19 yang sedang mengganas ini dengan tidak melakukan kerumunan.

"Lihat rumah sakit, kuburan udah penuh. Apa mau diperpanjang lagi PPKM ini sementara masyarakat mengharapkan supaya bisa relaksasi. Tapi intinya di sini bagaimana masyarakat mau sadar, mau disiplin hindari kerumunan," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus kepada wartawan di Polda Metro Jaya.