dr Louis Sebut Kematian COVID-19 Dipicu Interaksi Obat, Ini Kata Ahli Farmasi



Pernyataan dr Louis mengenai kematian pasien COVID-19 karena interaksi obat menjadi sorotan. PB IDI pun telah memanggilnya untuk klarifikasi.

Terkait pernyataan itu, Guru Besar Fakultas Farmasi UGM Prof. Zullies Ikawati mengemukakan pandangan ilmiahnya. 

Menurutnya, interaksi obat merupakan adanya pengaruh suatu obat terhadap efek obat lain ketika digunakan bersama-sama pada seorang pasien.

Interaksi tersebut sebenarnya dapat terjadi dalam 3 hal, yaitu bersifat sinergis atau menyebabkan meningkatnya efek farmakologi obat lain, bersifat antagonis atau mengurangi efek obat lain. Atau dapat meningkatkan efek yang tidak diinginkan dari obat yang digunakan tersebut.

"Karena itu, sebenarnya interaksi ini tidak semuanya berkonotasi berbahaya, ada yang menguntungkan, ada yang merugikan. Jadi tidak bisa digeneralisir, dan harus dikaji secara individual," jelas Prof Zullies dalam keterangan tertulis yang diterima kumparan, Senin (12/7).

Dalam penanganan COVID-19 ini memang digunakan obat-obatan yang beragam. Terlebih jika pasien tersebut merupakan pasien dengan penyakit penyerta atau komorbid. 

Sehingga obat yang digunakan bisa lebih dari satu jenis. Untuk itu, pemberian obat tidak boleh sembarang. Mengombinasikan obat dengan mekanisme interaksi yang menguntungkanlah yang harus dipilih.

"Dalam kasus ini, memang pemilihan obat yang akan dikombinasikan harus tepat, yaitu yang memiliki mekanisme yang berbeda, sehingga ibarat menangkap pencuri, dia bisa diadang dari berbagai penjuru. Dalam hal ini, obat tersebut dapat dikatakan berinteraksi, tetapi interaksi ini adalah interaksi yang menguntungkan, karena bersifat sinergis dalam menurunkan tekanan darah," ungkap dia.

"Memang tetap harus diperhatikan terkait dengan risiko efek samping, karena semakin banyak obat tentu risikonya bisa meningkat," jelasnya.

Dalam kasus seperti ini, dokter tentu akan memilih obat-obatan yang tepat dan saling bersinergi untuk penanganan COVID-19 maupun komorbidnya itu sendiri.

Lalu, kapan interaksi obat dapat dikatakan merugikan?

"Interaksi obat dapat merugikan jika adanya suatu obat dapat menyebabkan berkurangnya efek obat lain yang digunakan bersama. Atau bisa juga jika ada obat yang memiliki risiko efek samping yang sama dengan obat lain yang digunakan bersama, maka akan makin meningkatkan risiko total efek sampingnya. Jika efek samping tersebut membahayakan, tentu hasil akhirnya akan membahayakan," urai Prof Zullies.

Prof Zullies kemudian mencontohkan kombinasi obat yang memiliki efek samping yang sama. Untuk itu penggunaannya secara berbarengan bisa memberikan akumulasi efek samping yang lebih berbahaya.
ADVERTISEMENT
"Seperti contohnya obat azitromisin dan hidroksiklorokuin yang dulu digunakan untuk terapi Covid, atau azitromisin dengan levofloksasin, mereka sama-sama memiliki efek samping mengganggu irama jantung. Jika digunakan bersama maka bisa terjadi efek total yang membahayakan," jelasnya.

"Selain itu, interaksi obat dapat meningkatkan efek terapi obat lain. Pada tingkat tertentu, peningkatan efek terapi suatu obat akibat adanya obat lain dapat menguntungkan, tetapi juga dapat berbahaya jika efek tersebut menjadi berlebihan. Misalnya efek penurunan kadar gula darah yang berlebihan akibat penggunaan insulin dan obat diabetes oral, bisa menjadi berbahaya," tambahnya.

Lalu, bisakah pasien menghindari adanya interaksi obat?

Menurut Prof Zullies, hal tersebut terkadang tak bisa dihindari pada pasien-pasien dalam proses terapi seperti pada kasus COVID-19. Maka dari itu menurutnya, obat-obatan dengan risiko interaksi terendah yang harus dipilih. Namun kenyataannya, tak semua obat yang digunakan bersama itu punya interaksi yang berarti.

"Faktanya, tidak semua obat yang digunakan bersama itu menyebabkan interaksi yang signifikan secara klinis. Yang artinya aman-aman saja untuk dikombinasikan atau digunakan bersama," jelasnya.

Untuk itu, pemberian obat juga harus mempertimbangkan dengan memahami mekanisme interaksinya. Mekanisme interaksi obat dapat melibatkan aspek farmakokinetik (mempengaruhi absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat lain), atau farmakodinamik (ikatan dengan reseptor atau target aksinya).

Maka, ada cara-cara yang dapat dilakukan untuk menghindarinya. Misalnya dengan memberikan jeda waktu yang cukup panjang dalam mengkonsumsi dua jenis obat yang dipercaya dapat meningkatkan interaksi. Namun jika mekanismenya adalah mempengaruhi metabolisme obat maka penyesuaian dosis obat juga dapat dilakukan.

"Jika pemberian jeda pemberian dan penyesuaian dosis tidak dapat mencegah dampak interaksi, maka cara lain menghindari interaksi obat adalah dengan mengganti obat yang berinteraksi dengan obat lain yang kegunaannya sama, tetapi kurang berinteraksi," kata Prof Zullies.

"Sekali lagi, dampak interaksi obat tidak bisa digeneralisir dan harus dilihat kasus demi kasus secara individual, sehingga pengatasannya pun berbeda-beda pada setiap kasus," katanya.

Kesimpulannya, apakah benar interaksi obat bisa menyebabkan kematian?

Ternyata menurut Prof Zullies tidak sesederhana itu. Penggunaan obat yang diduga dapat menyebabkan interaksi perlu pemantauan yang lebih. Sehingga, jika ada peningkatan interaksi yang tidak diinginkan, penggunaan obat dapat segera dihentikan atau mengganti dengan obat lain.

Kondisi ini menurutnya sangatlah membutuhkan kolaborasi antara dokter, perawat, maupun apoteker. Sehingga pemantauan dapat dilakukan dan tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan pada pasien.

"Jadi, jika ada yang menyebutkan bahwa kematian pasien Covid adalah semata-mata akibat interaksi obat, maka pernyataan itu tidak berdasar dan tidak bisa dipertanggungjawabkan," tutup Prof Zullies.