Imun Sinovac Turun 6 Bulan, Jokowi Perlu Suntikan Ketiga Bulan Ini



Sejumlah penelitian terkait vaksin Sinovac akhir-akhir ini telah menunjukkan fakta terbaru. Imunogenisitas seseorang yang telah divaksinasi sebanyak dua kali dengan Sinovac akan memudar setelah 6 bulan.

Indonesia merupakan salah satu negara yang menggunakan Sinovac sebagai vaksin COVID-19. Vaksin produksi China ini sendiri menurut BPOM memiliki efikasi sebesar 65 persen. Sekitar awal Januari 2021 lalu, pemerintah mulai memberikan vaksin Sinovac kepada para tenaga kesehatan yang dianggap paling berisiko tertular.

Penelitian ini sebelumnya telah disampaikan oleh Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Sinovac, Prof Kusnandi Rusmil. Dalam sebuah wawancara dengan kumparan, ia menyampaikan adanya penurunan imunogenisitas pada penerima vaksin Sinovac setelah 6 bulan. Untuk itu, Guru Besar FK Unpad ini mengatakan kemungkinan rencana pemberian dosis tambahan sebagai perlindungan tambahan.

"Sinovac setelah 6 bulan itu turun, sehingga memang rencananya setelah 6 bulan harus disuntik ulang," kata Prof Kusnandi pada 16 Juli 2021.

Selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan di Bandung tersebut, penelitian dari China baru-baru ini juga mengatakan hal yang sama. Hasil penelitian ini didapatkan dari pengecekan sampel darah orang dewasa sehat berusia 18-59 yang dibagi menjadi dua kelompok dengan peserta masing-masing lebih dari 50 orang. Hasilnya, tak sampai dari separuh peserta yang memiliki antibodi di atas ambang batas.
Dengan adanya hasil riset-riset ini, pemerintah perlu mempertimbangkan untuk memberikan dosis ketiga, termasuk kepada para pejabat negara seperti Presiden Jokowi dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Jokowi diketahui menjadi orang pertama yang menerima vaksinasi COVID-19 menggunakan Sinovac pada 13 Januari 2021. Dosis kedua kemudian didapatkan 14 hari setelahnya yakni 27 Januari 2021. Diketahui pejabat lainnya seperti Menteri Kesehatan hingga artis Raffi Ahmad juga mendapatkan vaksin di hari yang sama dengan Jokowi.

Itu berarti, Jokowi dan juga para pejabat lainnya pada Juli ini telah genap mencapai 6 bulan setelah mendapatkan vaksin kedua. Sehingga, penurunan imunogenisitas bisa terjadi.

Dosis ketiga sementara hanya untuk tenaga kesehatan

Hingga saat ini, pemerintah baru memberikan dosis vaksin tambahan kepada para tenaga kesehatan. Lonjakan kasus yang terjadi saat ini mengakibatkan meningkatnya paparan tenaga kesehatan terhadap COVID-19. Tak sedikit juga yang terinfeksi dan gugur walau telah mendapatkan vaksinasi dengan Sinovac secara lengkap.

Dengan adanya pertimbangan tersebut, maka pemerintah memberikan booster dengan vaksin Moderna yang memiliki efikasi cukup tinggi dibanding Sinovac, yaitu 94,1 persen.

Sebagai lanjutan dari studi yang dilakukan di China terkait penurunan imunogenisitas, ditemukan pula adanya peningkatan antibodi pada para peserta yang diuji hingga 3 sampai 5 kali lipat setelah 4 minggu diberikan suntikan dosis ketiga.

Ini merupakan pertanda yang cukup baik yang memperlihatkan efektivitas pemberian dosis ketiga. Apalagi di tengah lonjakan kasus yang tengah menerjang Indonesia saat ini.

Hanya saja, rencana ini menurut Prof Kusnandi sebaiknya dilakukan apabila mayoritas masyarakat sudah mendapatkan vaksin. Sementara kini baru sekitar 21 persen penduduk dari total target yang telah mendapatkan setidaknya vaksin dosis pertama.

Lantas, kira-kira kapan Jokowi dan Menkes dapat booster?