Prabowo: Jika Perang, Kita Tak Bisa Buru-buru ke Supermarket Beli Alat Perang



Menhan Prabowo Subianto menjadi pembicara kunci dalam webinar bertajuk Optimalisasi Industri Pertahanan dalam Konteks Kepentingan Nasional RI di Abad 21 yang digelar Unpad, Jumat (9/7). Dalam webinar itu, Prabowo menyinggung soal perang dan bagaimana Indonesia perlu menyiapkan diri untuk menghadapi perang. 

Menurut dia, rencana pertahanan termasuk senjata untuk menghadapi perang haruslah dipersiapkan sejak lama. 

"Sejarah manusia katakan bahwa bangsa yang ingin damai dan merdeka adalah bangsa yang siap perang. Itulah inti pertahanan," kata Prabowo. 

"Kalau jadi perang, kita tidak bisa buru-buru ke supermarket membeli alat perang," lanjut dia. 

Ketum Gerindra ini mengatakan, jika Indonesia ingin siap menghadapi perang, maka minimal, dari sekarang, negara ini sudah mau berpikir soal potensi adanya perang. Bahkan, optimalisasi industri pertahanan adalah bagaimana mempersiapkan perang. 

"Jadi, kalau ingin Indonesia aman, kita harus mau minimal berpikir tentang perang. Sun Tzu pernah katakan perang adalah bagian vital suatu negara," jelas Prabowo. 

Prabowo kemudian menyinggung soal definisi perang. Menurut dia, perang adalah pemaksaan kehendak oleh sebuah negara dengan tujuan menguasai suatu wilayah atau sumber daya suatu negara. Caranya, yaitu dengan kekuatan fisik atau kekerasan. 

Ia kemudian mengutip pepatah yang dipegang oleh bangsa Athena soal konsep perang. Dengan konsep ini maka suatu negara wajib memiliki pertahanan yang kuat untuk mengantisipasi perang. 

"The strong do what they can and the weak suffer what they must. Kalau dia mampu membom dia membom kalau mampu hancurkan satu kota dia akan lakukan. Yang lemah akan menderita," kata Prabowo.

Oleh sebab itu, Prabowo menekankan, jika Indonesia ingin menjadi bangsa yang kuat maka wajar pemerintah menyiapkan rencana dan skenario pertahanan. Termasuk, mempersiapkan rencana pertahanan untuk alutsista. 

Hal ini, kata dia, dilakukan agar Indonesia bisa menjadi salah satu negara kuat. 

"Kita ini dalam keadaan tidak kuat, tidak sehat, kalau tidak kuat hadapi ancaman virus, lebih cepat kita hancur. Pertanyaannya kembali, apakah Indonesia mau kuat atau lemah. Kalau mau kuat lakukan hal-hal yang jadi kuat," tutup dia.